GUDANG PUISI 2014
Sepi adalah temanku..
Pekat malam yang menggelapkan hati
dinginnya yg membekukan jiwa
aku di patungkan suasana
para jangkrik mulai memainkan perannya
bersuara di keheningan malam
seakan suara mereka menertawakan hidupku
hidupku yang sudah tak bermakna
rasa sedih yg kini menguasai
kekosongan hati yang tak juga terisi
tapi masih ku berikan senyumku pada dunia
sebuah senyuman palsu
akulah si bahagia yang tak nyata
semua tawaku bersifat fana
kebahagia’anku pergi di bawa cinta
cinta yang hancurkan hidup yang aku punya
cinta yang aku puja
malah menghancurkan hati ini
kepingannya coba ku susun kembali
ku bentuk menyerupai aslinya
tapi tak menghilangkan tanda dari retakannya
rasa sakit ini akan ku bawa mati
biarlah sang cinta membawa bahagia
aku relakan kau pergi
menyisakan kekosongan hati ini
agar kau mendapat bahagia
walau aku sangat menderita
Si bahagia yang tak nyata – oleh Taufiq Ridho
Garut
Search This Blog
Monday, September 1, 2014
SENYUM KEKASIHKU – oleh Wahyu Kusuma Wardani
GUDANG PUISI 2014
ketika ku lihat dia
tergambar segaris senyum
senyum yg membuat hatiku luka
entah mengapa setiap ku lihat senyumnya
senyum itu seakan mengikat kuat dadaku
merebut setiap nafasku
dan menghentikan aliran darahku
senyum itu…
ahh.sudahlah.
aku tak mau mengingatnya lagi
dia,pemilik senyum itu
yg dulu pernah jadi milikku sekian waktu
tapi itu dulu.
kini dia tlah pergi tinggalkanku
Senyum Kekasihku – oleh Wahyu Kusuma Wardani
Ngawi
ketika ku lihat dia
tergambar segaris senyum
senyum yg membuat hatiku luka
entah mengapa setiap ku lihat senyumnya
senyum itu seakan mengikat kuat dadaku
merebut setiap nafasku
dan menghentikan aliran darahku
senyum itu…
ahh.sudahlah.
aku tak mau mengingatnya lagi
dia,pemilik senyum itu
yg dulu pernah jadi milikku sekian waktu
tapi itu dulu.
kini dia tlah pergi tinggalkanku
Senyum Kekasihku – oleh Wahyu Kusuma Wardani
Ngawi
PENANTIAN – oleh Basuki Santosa
GUDANG PUISI 2014
Seperti Kemarau jemput Hujan
Gugurpun berganti semi
Siang menantikan malam
Penantian yg berbatas
Tidaklah seperti itu…
Perjalannku seakan tak berujung
Lelah dalam penantian….
Rapuh dalam perjalanan….
Aku sadar…..
Aku bukanlah rama
yg punya kekuatan
tuk menjemput cinta
Aku bukanlah Anjasmara
yg punya keberanian gengam cinta
Aku hanyalah rusa terluka
Mencoba bertahan tuk melangkah
Berharap semua akan tiba
Ku kan Bertanam di ladang hatimu
kutabur Benih benih cintaku
kembali bersemi, semerbak mewamgi
Bagi langit berhias pelangi.
Penantian – oleh Basuki Santosa
Sidoarjo
Seperti Kemarau jemput Hujan
Gugurpun berganti semi
Siang menantikan malam
Penantian yg berbatas
Tidaklah seperti itu…
Perjalannku seakan tak berujung
Lelah dalam penantian….
Rapuh dalam perjalanan….
Aku sadar…..
Aku bukanlah rama
yg punya kekuatan
tuk menjemput cinta
Aku bukanlah Anjasmara
yg punya keberanian gengam cinta
Aku hanyalah rusa terluka
Mencoba bertahan tuk melangkah
Berharap semua akan tiba
Ku kan Bertanam di ladang hatimu
kutabur Benih benih cintaku
kembali bersemi, semerbak mewamgi
Bagi langit berhias pelangi.
Penantian – oleh Basuki Santosa
Sidoarjo
MIMPI KECIL KITA DULU – oleh Acep Jaenudin
GUDANG PUISI 2014
Kita pernah bermimpi bersama untk menjalin suatu ikatan suci di dalam pelaminan
Yg begitu sangat indah dan mengagumkan
Mimpi kecil kita itu.
Untuk menjalin suatu rumah tangga yg sakina mawa’dah warohmah.
Aku sbagi kapten dlam perahu kecil
Dan kau sbagai nahkodanya.
Kita berjanji untuk mewujudkan semuanya
Menaklukan derasnya ombak.
Menghadang semua tantangan
Menerjang badai
Hingga kita sampai di ujung pelayaran kita
Brjuang sehidup semati untuk mencapai apa yg kita tuju dan apa yg kita impikan
.sungguh sangat indah mimpi kita dulu
Dengan berjalannya waktu
Impian itu lenyap secara perlahan seakan tercabik habis dengan tiap detik tiap meni jarum jam itu berputar.
Seakan mengikis habis tiap lembarannya.
Dan pada akhirnya impian kecilku itupun sirna sudah.tak tersisa sedikutpun lembaran kertas itu tersisa.
Hanya tertinggal robekan robekan kecil yang berserakan.
Ku pungut satu per satu tiap robekan kertas itu.mencoba merangkai kembali.
Agar lembaran itu bisa berbaris rapih seperti sedia kala.
Mimpi kecilku pun bisa aku perjuangkan kembali.
Tapi usahaku semuanya sia sia.tak berujung hasil yg di inginkan bahkan lembaran kerta itupun terbang jauh bersama alurnya angin
Seakan angin yg melenyapkan semua impian kecilku itu yg sebelumnya sudah aku susun rapih nan indah di dalam dinding hatiku.
Kini menjadi byangan semu yang takan pernah mungkin untuk aku meraihnya kembali.
Mimpi kecil kita dulu – oleh Acep Jaenudin
Limbangan Garut
Kita pernah bermimpi bersama untk menjalin suatu ikatan suci di dalam pelaminan
Yg begitu sangat indah dan mengagumkan
Mimpi kecil kita itu.
Untuk menjalin suatu rumah tangga yg sakina mawa’dah warohmah.
Aku sbagi kapten dlam perahu kecil
Dan kau sbagai nahkodanya.
Kita berjanji untuk mewujudkan semuanya
Menaklukan derasnya ombak.
Menghadang semua tantangan
Menerjang badai
Hingga kita sampai di ujung pelayaran kita
Brjuang sehidup semati untuk mencapai apa yg kita tuju dan apa yg kita impikan
.sungguh sangat indah mimpi kita dulu
Dengan berjalannya waktu
Impian itu lenyap secara perlahan seakan tercabik habis dengan tiap detik tiap meni jarum jam itu berputar.
Seakan mengikis habis tiap lembarannya.
Dan pada akhirnya impian kecilku itupun sirna sudah.tak tersisa sedikutpun lembaran kertas itu tersisa.
Hanya tertinggal robekan robekan kecil yang berserakan.
Ku pungut satu per satu tiap robekan kertas itu.mencoba merangkai kembali.
Agar lembaran itu bisa berbaris rapih seperti sedia kala.
Mimpi kecilku pun bisa aku perjuangkan kembali.
Tapi usahaku semuanya sia sia.tak berujung hasil yg di inginkan bahkan lembaran kerta itupun terbang jauh bersama alurnya angin
Seakan angin yg melenyapkan semua impian kecilku itu yg sebelumnya sudah aku susun rapih nan indah di dalam dinding hatiku.
Kini menjadi byangan semu yang takan pernah mungkin untuk aku meraihnya kembali.
Mimpi kecil kita dulu – oleh Acep Jaenudin
Limbangan Garut
KERAGUAN CINTA – oleh Satria Jonlee Jonison
GUDANG PUISI 2014
Ketika semua begitu nyata, begitu dekat
Ada warna yang muncul walaupun tak seindah pelangi setelah hujan
Berpendar dalam hati dua insan yang tengah dibuai semilir hembusan cinta
Terbuai deburan ombak asmara gila
Saat itu, hati tak mampu lagi membedakan mana yang benar dan salah
Di dalam otak dan pikiran hanya ada satu kata “cinta”
Tanpa mempedulikan semua yang ada
Tidak juga orang-orang yang berbicara
Kala itu aku bagaikan seorang nelayan yang tengah bemain dengan laut yang biru
Ditengah kencangnya badai dan tingginya gelombang
Aku tetap berusaha memenangkan pertarungan untuk tetap mempertahanka kapal agar tak karam
Mencoba terus tuk bisa bersandar di tepian hatimu.
Tapi sayang….. walaupun aku terlihat gagah di lautan
Namun tetap ada rasa takut yang selalu menghampiri jiwa ini
Ketika perahu telah disandarkan dan jangkar telah diturunkan
Apakah aku masih kuat untuk terus mengarungi lautan ini
Dalam hati ada keraguan yang selalu menghantui
Apakah aku mampu terus bertahan dan kau tetap menunggu ditepian hatimu
Walaupun kita sama tahu kalau gelombang selalu berakhir ditepian
Dan akulah yang berjuang menjaga agar kapal hati tak karam bersama do’a sucimu
Keraguan Cinta – oleh Satria Jonlee Jonison
Palembang
Ketika semua begitu nyata, begitu dekat
Ada warna yang muncul walaupun tak seindah pelangi setelah hujan
Berpendar dalam hati dua insan yang tengah dibuai semilir hembusan cinta
Terbuai deburan ombak asmara gila
Saat itu, hati tak mampu lagi membedakan mana yang benar dan salah
Di dalam otak dan pikiran hanya ada satu kata “cinta”
Tanpa mempedulikan semua yang ada
Tidak juga orang-orang yang berbicara
Kala itu aku bagaikan seorang nelayan yang tengah bemain dengan laut yang biru
Ditengah kencangnya badai dan tingginya gelombang
Aku tetap berusaha memenangkan pertarungan untuk tetap mempertahanka kapal agar tak karam
Mencoba terus tuk bisa bersandar di tepian hatimu.
Tapi sayang….. walaupun aku terlihat gagah di lautan
Namun tetap ada rasa takut yang selalu menghampiri jiwa ini
Ketika perahu telah disandarkan dan jangkar telah diturunkan
Apakah aku masih kuat untuk terus mengarungi lautan ini
Dalam hati ada keraguan yang selalu menghantui
Apakah aku mampu terus bertahan dan kau tetap menunggu ditepian hatimu
Walaupun kita sama tahu kalau gelombang selalu berakhir ditepian
Dan akulah yang berjuang menjaga agar kapal hati tak karam bersama do’a sucimu
Keraguan Cinta – oleh Satria Jonlee Jonison
Palembang
KEBERSAMAAN CINTA – oleh Henfitananda Nabilatul Ilmiyyah
GUDANG PUISI 2014
Di setiap tawa…
Tersimpan luka…
Di setiap kebahagiaan…
Pasti ada tangisan…
Dua insan saling melengkapi…
Dengan senang hati menjalani…
Kini aku mengerti…
Apalah arti mencintai…
Ku tau kekuranganmu…
Dan kau tau kekuranganku…
Perbedaan bukanlah untuk perdebatan…
Tetapi jadikanlah perbedaan untuk kebersamaan…
Karena kebersamaan adalah kebahagiaan…
Dengan di landasi rasa kasih sayang…
Kebersamaan Cinta – oleh Henfitananda Nabilatul Ilmiyyah
Kediri
Di setiap tawa…
Tersimpan luka…
Di setiap kebahagiaan…
Pasti ada tangisan…
Dua insan saling melengkapi…
Dengan senang hati menjalani…
Kini aku mengerti…
Apalah arti mencintai…
Ku tau kekuranganmu…
Dan kau tau kekuranganku…
Perbedaan bukanlah untuk perdebatan…
Tetapi jadikanlah perbedaan untuk kebersamaan…
Karena kebersamaan adalah kebahagiaan…
Dengan di landasi rasa kasih sayang…
Kebersamaan Cinta – oleh Henfitananda Nabilatul Ilmiyyah
Kediri
HUJAN TERAKHIR – oleh Sky Shucaya
GUDANG PUISI 2014
Padahal pagi ini mata baru ku buka
Tubuh pun enggan lepas dari selimut,
Ah…aku tak mengerti
Mengapa rinduku tak ada jeda untukmu.
Selalu begitu bila kau tahu
Tak ada rumus pasti untuk aku selesaikan,
Senyummu menginap tak lelah di ruang degupan jantung,
Bolehkkah aku pinjam rindumu…
Agar banyak cerita ku usungkan di bahumu,
Ketika hujan terakhir hanya tetes-tetes embun,
Yang jatuh dari ujung genting ke kelopak melati putih.
Harumu sedap sekali,
Pagi semakin dingin biarkan kau hadir nyata,
Hingga lelap di pelukku.
Sampai reda gerimis di waktu ini.
Kau pun tahu di mana ku simpan cinta ini,
Dan ku titipkan sebagaimana mestinya.
Jaga baik-baik bersama hujan terakhir ini.
Hujan Terakhir – oleh Sky Shucaya
Sumedang
Padahal pagi ini mata baru ku buka
Tubuh pun enggan lepas dari selimut,
Ah…aku tak mengerti
Mengapa rinduku tak ada jeda untukmu.
Selalu begitu bila kau tahu
Tak ada rumus pasti untuk aku selesaikan,
Senyummu menginap tak lelah di ruang degupan jantung,
Bolehkkah aku pinjam rindumu…
Agar banyak cerita ku usungkan di bahumu,
Ketika hujan terakhir hanya tetes-tetes embun,
Yang jatuh dari ujung genting ke kelopak melati putih.
Harumu sedap sekali,
Pagi semakin dingin biarkan kau hadir nyata,
Hingga lelap di pelukku.
Sampai reda gerimis di waktu ini.
Kau pun tahu di mana ku simpan cinta ini,
Dan ku titipkan sebagaimana mestinya.
Jaga baik-baik bersama hujan terakhir ini.
Hujan Terakhir – oleh Sky Shucaya
Sumedang
Subscribe to:
Posts (Atom)
